Dari zaman dahulu hingga sekarang, manusia mengenal sebuah aktivitas seksual yang bernama masturbasi. Masturbasi adalah aktivitas memberikan rangsangan secara mandiri kepada titik-titik rangsangan seksual, yaitu alat kelamin, dan bagian tubuh yang lain (payudara, tubuh), dengan tujuan untuk memperoleh kepuasan seksual yang berujung pada orgasme.
Untuk lelaki, masturbasi lazim dilakukan dengan memijit batang penis maju-mundur (lazim disebut mengocok) hingga mencapai puncak orgasme yang diikuti dengan ejakulasi (keluarnya cairan sperma).
Bagi perempuan, pola masturbasi bisa dilakukan dengan beberapa cara, dan yang paling lazim adalah merangsang klitoris dengan jari dan memasukan sesuatu yang menyerupai batang penis ke dalam lubang vagina. Cara lain yang biasa dilakukan adalah : meremas-remas payudara, dan atau memeluk erat sesuatu yang menyerupai wujud tubuh manusia (semisal bantal guling).
Semua dilakukan secara kontinyu hingga tercapai sensasi kepuasan puncak seksual yang menyenangkan (orgasme). Masturbasi paling lazim dilakukan oleh lelaki dan perempuan yang masih melajang (belum menikah), yang karena alasan adat dan atau keyakinan agama, tidak mau dan tidak boleh melakukan hubungan seksual pra-nikah. Mereka adalah orang-orang yang dewasa secara seksual, namun belum memiliki sarana yang formal dan legal secara hukum—adat dan agama—untuk melepaskan gejolak hasrat seksual. Karena telah dewasa secara seksual, mereka pun telah dipenuhi dengan hasrat penyaluran seksual yang menggelora, dan kondisi tersebut seringkali menjadi kondisi yang serba salah. Karena stigma budaya dan agama, sebagian besar dari pelaku masturbasi merasa tidak nyaman secara psikologis, atau timbul rasa menyesal, kotor, berdosa dan hina setelah selesai melakukan masturbasi. Di mata publik, masturbasi juga dianggap sebagai perilaku yang kotor dan hina.
Secara umum, bisa disimpulkan, para lajang yang melakukan masturbasi, merasa tidak nyaman, merasa tidak bahagia dan gelisah. Karena sebab itulah, kebanyakan pelaku masturbasi akan berusaha menutupi kebiasaan tersebut. Stigma buruk mengenai masturbasi jelas sangat beralasan. Sebagian besar budaya dan agama di dunia memang menganggap demikian. Dan jika dirunut secara etimologis, kata masturbasi memang berasal dari bahasa Latin 'mastubare' yang merupakan gabungan dari 'manus' dan 'stuprare' yang berarti 'penyalahgunaan dengan tangan'.
(1) sementara itu, dalam perkembangannya, begitu banyak isu-isu dan anekdot-anekdot yang muncul dari perilaku ini, antara lain disebutkan bahwa masturbasi menyebabkan pelupa, tidak baik untuk kesehatan mata, dan lain sebagainya.
Jadi semakin kompleks-lah stigma negatif tentang masturbasi yang pada akhirnya semakin memperburuk kondisi kejiwaan para pelaku masturbasi. Pertanyaan besar yang kemudian timbul tentu saja adalah, 'Benarkah masturbasi itu buruk? Atau sebaliknya?' Secara medis, para ahli mengungkapkan, bahwa masturbasi sama sekali tidak memiliki efek samping mengganggu kesehatan tubuh.
(2) Efek samping masturbasi hanya terjadi disebabkan oleh faktor psikologis akibat dari stigma kebudayaan dan agama. Dalam penelitian yang lebih lanjut dan terbaru, ejakulasi bagi lelaki, dan kontraksi seksual adalah proses yang menyehatkan tubuh. Bagi lelaki, ejakulasi (pengeluaran sperma) yang teratur dan cukup justru membantu menjaga kualitas sperma, yaitu mencegah terjadinya kerusakan DNA pada sperma. Dalam konteks hubungan pasutri, para ahli bahkan menyarankan, bagi pasangan yang lekas ingin diberi keturunan, untuk melakukan hubungan seksual setiap hari selama seminggu dalam masa subur. Dan selanjutnya, untuk menjaga kesehatan organ seksual, pasutri baik melakukan hubungan seks sebanyak 2-3 kali setiap minggunya.
(3) Karena hubungan seks dan masturbasi secara esensi tendensiusnya sama, yaitu mencapai kepuasan seksual atau orgasme, maka merujuk pada penemuan tersebut, secara medis, masturbasi tidak mempunyai efek-efek negatif, atau bisa dikatakan, justru baik bagi kesehatan organ reproduksi dan tubuh secara umum.
(4) Masalah utama dari gejolak pelaku masturbasi hanya terletak pada faktor psikologis saja. Dan untuk itu, saya—secara subyektif, memberikan beberapa pandangan dan saran-saran bebas seputar masturbasi : 1) Jalan Keluar Terbaik Bagi lelaki dan perempuan lajang, gejolak seksual adalah hal yang sangat menggelisahkan. Dan karena adat dan agama sebagian besar masyarakat Indonesia masih melarang Zinah secara utuh, maka penyaluran gejolak seks melalui masturbasi adalah 'jalan keluar yang terbaik'. Tentu saja akan terjadi paradoks di sini, yaitu akan muncul efek samping psikologis tersebut. Lalu bagaimana baiknya? Bagi saya, persepsi dan prinsip yang paling utama adalah mencari jalan yang paling mudah dan tak merusak. Karena Zinah adalah haram secara hukum agama, maka hindarilah Zinah (berhubungan badan) tanpa kecuali. Kemudian, karena hasrat seksual adalah sesuatu yang alamiah dan akan selalu muncul, maka penyaluran melalui sarana masturbasi adalah baik, dan tak perlu dirisaukan. 2) Hilangkan Rasa Bersalah dan Berdamailah Rasa bersalah yang sering timbul selepas kita selesai melakukan masturbasi dan mendapatkan orgasme adalah amat menggelisahkan. Ibadah-ibadah ritual jadi terasa sedikit hambar, dan kita merasa jauh dari Tuhan. Berusahalah sedikit demi sedikit untuk melupakan rasa bersalah itu, dan yakinilah selalu, bahwa Tuhan menyuruh kita mencari jalan yang paling mudah. Kita melakukan masturbasi, murni untuk menghindari zinah. Dan khusus dalam konteks Islam, kita bisa merujuk pada pendapat beberapa Ulama yang memperbolehkan masturbasi.
(5) Secara perlahan, lupakan rasa bersalah itu, dan berdamailah dengan aktivitas yang dilandasi oleh niat menghindari zinah. Cara praktikal untuk menghilangkan rasa bersalah itu adalah, selesai melakukan masturbasi, jangan lupa melakukan mandi pensucian (Islam : mandi wajib/junub). Kemudian, jangan kurangi sedikitpun ritme ibadah ritual (shalat jamaah wajib, shalat sunnah, membaca Kitab Suci). Jangan juga kita kurangi sedikitpun kualitas keseriusan kita dalam beribadah dan mendekati Tuhan. Jangan pernah merasa bahwa Tuhan menjauh. Tuhan sama sekali tak pernah menjauh dari kita. 3) Baik Untuk Kesehatan! Alih-alih memiliki efek buruk bagi kesehatan, berdasarkan penelitian, aktivitas seksual justru memiliki akibat-akibat positif bagi kesehatan, dan oleh karenanya, masturbasi juga sehat bagi tubuh, dan sangat dibolehkan melakukan masturbasi, kapanpun hasrat seksual kita muncul. Bagi lelaki dewasa, siklus yang paling ideal mungkin antara 2-3 kali seminggu. Tapi bila ingin melakukan lebih dari itu, tidak masalah, selama tidak melebihi batas toleransi tubuh.
(6) 4) Hindari Pornografi Inilah yang mungkin terasa paradoks. Ya! Gejolak seksual adalah siklus hormonal tubuh yang terjadi secara alami. Tanpa rangsangan-rangsangan eksternal, gejolak seksual akan selalu timbul. (Semisal : penumpukan sperma pada lelaki, faktor cuaca sejuk yang bisa menimbulkan gairah). Pornografi adalah rangsangan eksternal yang disengaja untuk mendapat rangsangan libidal yang pada ujungnya, akan bermuara pada kebutuhan pelepasan hasrat seksual. Jika kita melakukannya secara kontinyu, pornografi adalah tak ubahnya narkoba, ia menjerat dan membuat kita kecanduan. Dan karenanya, proses masturbasi yang timbul kemudian, adalah masturbasi yang banal dan penuh dengan imajinasi sarkastik. Dalam konteks inilah mungkin perlu diberi ruang untuk dikaji mengenai pelabelan hina bagi masturbasi. Jadi : No Pornografi, Yes Masturbasi.
Lakukan masturbasi karena siklus alamiah hormonal, bukan karena keinginan nakal yang disengaja akibat menikmati pornografi. Kesimpulannya adalah, bagi kita yang masih melajang, lelaki dan perempuan, adalah sah dan baik-baik saja bila ingin melakukan masturbasi—demi melepaskan gejolak alamiah hasrat seksual. Bila kita memiliki pacar, dan karena secara naluri kita terangsang dengan wujud fisik pacar, adalah jelas lebih mulia, kita pergi barang beberapa menit, untuk bermasturbasi, daripada melepaskannya kepada pacar, yang memiliki resiko tak terkendali, yang ujungnya sangat tak bisa ditebak : hamil yang memalukan, pacar tak mau bertanggung-jawab, ketagihan yang menjerat, penyakit seksual dari pengembaraan seksual, dan sebagainya. Dan bagi masyarakat umum (saya, anda, kita semua), marilah kita geser batas penilian terhadap masturbasi. Kita harus sangat bisa memahami gejolak hidup masa lajang, dan masturbasi—dikaji dari berbagai konteks, adalah jalan keluar yang paling rasional dan baik. Yuk!, kita ber-masturbasi! Di tempat yang privat! Karena ini adalah kegiatan pribadi! *) Artikel ini adalah opini, yang bersifat 'Zebra'. Berdiskusilah dengan arif dan adil.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/alwan.rosyidi/masturbasi-itu-sehat_54fd7f8aa33311803c50fd46
Penjahat Legendaris ini Pernah Bikin Indonesia Dilanda Ketakutan Mencekam
BeritavideoFB - Kejahatan dan tindakan kriminal selalu ada di setiap belahan dunia ini, tidak terkecuali di Indonesia. Sama seperti di semua tempat di dunia ini pula, di Indonesia sendiri tindakan kriminal tersaji lengkap mulai dari hal sepele sampai kejahatan kriminal berskala besar. Bila di luar negeri, mengenal penjahat legendaris seperti Al Capone, Xie Caiping, Bonnie dan Clyde, maka di Indonesia juga tidak kalah dengan mempunyai penjahat legendarisnya sendiri. Inilah beberapa sosok penjahat dan mantan kriminal Indonesia yang pada jamannya disegani, dihormati sekaligus ditakuti oleh banyak masyarakat. 1. Kusni Kasdut Bagi yang lahir di tahun 60-70an pasti mengenal sosok yang satu ini. Kusni Kasdut adalah seorang kriminal spesialisasi permata berharga. Pria bernama asli Waluyo ini, pada tanggal 31 Mei 1961 menjadi salah satu penjahat legendaris Indonesia setelah melakukan perampokan di Museum Nasional Jakarta (kini bernama Museum Gajah). Dengan menyamar sebagai polisi gadungan, Kus...
0 Komentar